ISTINBAT JAMA‘I DAN PENERAPANNYA DALAM BAHSUL MASA’IL

  • Luthfi Hadi Aminuddin STAIN Ponorogo
Keywords: ijtihad, deduksi, bermazhab manhaji, al-masa’il al-fiqhiyah, qiyas

Abstract

Di kalangan NU, Musyawarah Nasional (MUNAS) Alim Ulama pada tanggal 21-25 Januari 1992 di Bandar Lampung adalah awal munculnya kesadaran formal akan pentingnya pengembangan pemikiran metodologis khususnya dalam rangka melakukan ijtihad untuk mengambil keputusan hukum. Munas Bandar Lampung memberikan “lampu hijau” untuk memecahkan masalah dengan bermadhhab secara manhaji, ketika terjadi kebuntuaan (mawquf) dalam penerapan mazhab qawli.  Yang dimaksud bermazhab secara manhaji adalah mengikuti jalan pikiran dan kaidah penetapan hukum yang telah disusun oleh imam. Tulisan ini akan mengkaji posisi istinbat jama‘i dalam bermazhab manhaji, pengertiannya, prosedur pelaksanaannya serta penerapannya dalam bahsul masail.  Dari kajian penulis dapat disimpulkan bahwa  istinbat jama‘i  merupakan salah satu metode dalam bermazhab secara manhaji dan dilaksanakan ketika bermazhab secara qawlimengalami kebuntuan.Adapun perangkat yang digunakan dalam istinbat jama‘iadalah al-qawa‘id al-usuliyah, baik dengan pendekatan al-qawa‘id al-lughawiyah(kaidah-kaidah kebahasaan) maupun al-turuq al-ma‘nawiyah, melalui penerapan qiyas, istihsan, istislah} dan sadd al-zara’i.Sedangkan penerapannya dalam bahs al-masa’il, berdasarkan penelaahan penulis, dari 456 hasil bahs al-masa’il al-diniyah al-waqi‘iyah, mulai Muktamar NU I di Surabaya tahun 1926 hingga Muktamar NU XXXII di Makassar tahun 2010, hanya delapan keputusan hukum yang ditetapkan dengan istinbat jama‘i.Sedangkan keputusan bahsul masail terhadap masalah-masalah yang bersifat tematik (masa’il al-diniyah al-mawdu‘iyah), hampir semuanya diputuskan dengan istinbat} jama‘i.

References

Abu> Zahrah, Muh}ammad. Us}u> al-Fiqh. Beirut: Da>r al-Fikr, 1981.
Anshor, Ahmad Muhtadi. “Bahsul MasailPengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur (Studi Dinamika Bermazhab)” DisertasiIAIN Sunan Ampel, Surabaya, 2011.
Arifi, Ahmad. Pergulatan Fiqh Tradisi Pola Maz\hab. Yogjakarta: eLSAQ Press, 2010.
Asy‘ari, Hasyim. Al-Tibya>n fi Nahy ‘an Muqat}t{a‘at al-Arh}a>m wa al-Aqa>rib wa al-Akhwa>n. ed. Muhammad Ishom Hadziq. Jombang: Maktabat al-Tura>th al-Isla>mi> bi Ma‘had Tebuireng, 1994.
________. Ih}ya>’ ‘Awa>mil al-Fud}ala>’ fi> Tarjamah al-Qa>nu>n al-Asa>si> li al-Jam‘iyah al-Nahd}at al-‘Ulama>’,terj. Abdul Hamid. Kudus: Menara Kudus, 1967.
________. Al-Qa>nu>n al-Asa>si> li al-Jam‘iyah al-Nahd}ah al-‘Ulama>’,terj.Abdul Hamid. Kudus: Menara Kudus, 1971.
Bafad}al, Muh}ammad Sa>lim. Is‘a>d al-Rafi>q Syarh} Sullam al-Tawfi>q. Singapura: al-H{aramayn, t.t.
Bruineseen, Martin van. NU: Tradisi, Relasi-relasi Kuasa, Pencarian Wacana Baru, terj. Farid Wajidi. Yogjakarta: LKiS, 1994.
Feillard, Abdree. NU Vis a Vis Negara: Pencarian Isi, Bentuk dan Makna. Jogjakarta: LKiS, 2009.
Ghazali, Abdul Moqsith. “ Reorientasi Istinbat NU dan Operasionalisasi Ijtihad Jama‘i. dalam Kritik Nalar Fiqh NU: Transformasi Paradigma Bahtsul Masa’il. Jakarta: Lakpesdam, 2002.
H{asballa>h, Ali.>Us}u>l al-Tashri>‘ al-Isla>mi>. Mesir: Da>r al-Ma‘a>rif, t.t.
Ibrahim Husen. “Memecahkan permasalahan Hukum Baru” dalam Ijtiha>d dalam Sorotan. Bandung: Mizan, 1996.
Isma>il, Sha‘ba>n Muh}ammad. al-Ijtiha>d al-Jama‘i> wa Dawr al-Maja>mi‘ al-Fiqhi>yah fi Tat}bi>qih. Beirut: Da>r al-Basha>ir al-Isla>mi>yah, t.t.
Mahfudh, Sahal. Nuansa Fiqh Sosial. Jogjakarta: LKiS, 1994.
Mahfudh, Sahal. “Bahsul Masail dan Istinba>t}} Hukum NU: Sebuah Catatan Pendek,” dalam Ahkamul Fuqaha’: Solusi Problematika Aktual Hukum Islam, Keputusan Muktamar, Munas dan Konbes Nahdlatul Ulama. 1926-2010.Surabaya: Khalista, 2011.
Moesa, Ali Maschan. Nasionalisme Kiai: Konstruksi Sosial Berbasis Agama. Jogjakarta: LKiS, 2007.
Muhadjir, Afifudin. “Catatan Akhir Munas Surabaya: Kebanyakan Kita Senang mengkonsumsi Fikih Produk,” dalamNU Online Surabaya. Senin, 7 Agustus 2006.
Muhammad, Husen. "Tradisi Istinba>t} Hukum NU: Sebuah Kritik” dalam Kritik Nalar Fiqh NU: Transformasi Paradigma Bah}s\ al-Masa>‘il. Jakarta: Lakpesdam, 2002.
Al-Na'im, Abdullah Ahmad. Dekontruksi Syari'ah: Wacana Kebebasan Sipil, Hak Asasi Manusia dan Hubungan Internasional dalam Islam,terj. Ahmad Suaedi dan Amirudin Arrani. Jogjakarta: LKiS, 1994.
Al-Nawa>wi>, Yah}ya> ibn Sharaf.Rawd}at al-T{alibi>n wa ‘Umdat al-Mufti>n. Beirut: Da>r al-Kutub al-‘Ilmi>yah, t.t.
Nawa>wi> ibn ‘Umar al-Ja>wi>, Muh}ammad. Niha>yah al-Zayn Syarh} Qurrah al-‘Ayn. Jakarta: Da>r al-Kutub al-Isla>mi>yah, 2008.
Wahid, Marzuki. “Cara Membaca Tradisi Bahtsul Masa’il NU: Tatapan Reflektif”. dalam Kritik Nalar Fiqh NU: Transformasi Paradigma Bahtsul Masa’il. Jakarta: Lakpesdam, 2002.
Yahya, Imam. Dinamika Ijtihad NU. Semarang: Walisongo Press, 2009.
Zahro, Ahmad. Tradisi Intelektual NU: Lajnah Bahtsul Masa’il 1926-1999. Yogjakarta: LKiS, 2004.
Al-Zuh}ayli>, Wahbah. Al-Fiqh al-Isla>mi>wa Adillatuh. Beirut: Da>r al-Kutub al-‘Ilmiyah, 1990.
Madani,A. Malik.“ Cara Pengambilan Keputusan Hukum Islam dalam Bahsul Masail Nahdlatul Ulama”dalam Aula, Desember 1991.
Anam, Khoirul. "Era Baru Bahsul Masail" dalam http://groups.yahoo.comdi akses pada tanggal 21 November 2014.
Amin, KH. Ma‘ruf. "Perkembangan Bah}s\ al-Masa>’il”,daam http://lbmnu-surabaya.blogspot.-com/,di akses pada tanggal 21 November 2014.