RELASI KIAI-SANTRI DI PESANTREN FUTUHIYYAH, DEMAK

Suparjo Suparjo

Abstract


This writing discusses interpersonal relations between kiai and santri which concludes that ethic-pedagogic communication is a result from closed-distanced relation via habituation process based on unifying reflective-ethics conscience with practical conscience in religious patron- age social relation ethics value based. Both value and the practice of ethic- pedagogic communication tradition, in terms of interpersonal communi- cation between kiai and santri, contain positive and negative effects. The sense of kinship becomes an ideal value which should be preserved and adopted in educational system outside pesantren. The charisma-tization and symbolization towards kiai, create more awareness in studying pro- cess and maximizing self development during a period in pesantren and even beyond. Kiai - santri interpersonal communication restores many nega- tive - unproductive attitudes deliberately and ramifies positive - construc- tive side in everyday life. The more reflective conscience arises in many pesantren communities, significantly cementing the tradition. And if this habitus collectively formed and more and more become a tradition, this could affect to each person who enter the pesantren . This transformation into tradition could possibly occured because of the “abration of tradi- tion” process.

 

tulisan ini membahas tentang relasi interpersonal yang dilakukan oleh kiai dan santri dengan hasil bahwa komunikasi etik-pedagogis dilakukan secara dekat-berjarak melalui proses habituasi berbasis kepaduan kesadaran reflektif-etik dengan kesadaran praktis dalam sistem relasi sosial patronase religius dengan landasan nilai etik-religius. Nilai dan praktik tradisi “komunikasi etik-pedagogik” dalam interpersonal kiai-santri di dunia pendidikan pesantren mempunyai sisi positif dan negatif. Nuansa dekat dan kekeluargaan menjadi sisi ideal yang perlu dipertahankan dan dapat diadopsi ke dunia pendidikan secara umum. Entitas karisma kiai dan simbolisasi figur terhadapnya yang mampu menciptakan kesadaran santri dalam belajar dan mengembangkan diri secara maksimal dalam kehidupan pesantren yang bernuansa kesederhanaan dan bahkan hingga setelah keluar dari pesantren juga merupakan sisi ideal tradisi pesantren. Kiai-santri secara sadar memperbaiki sisi negatif atau kurang produktif pola perilaku komunikasi interpersonalnya dan menumbuhkan sisi positif dan konstruktifnya dalam keseharian kehidupan kolektif kiai dan santri. Semakin tumbuhnya kesadaran reflektif dalam jumlah yang semakin besar di kalangan komuniti pesantren secara signifikan akan mengokohkan dan sekaligus memperbaiki tradisi yang berjalan. Jika terbentuk habitus kolektif sehingga menjadi tradisi maka dapat mempengaruhi setiap individu yang masuk ke lingkungan pesantren dan dapat menjadi rujukan masyarakat. Proses transfromasi tradisi tersebut menjadi mungkin berdasarkan realitas terjadinya “abrasi tradisi”.


Keywords


communication; interpersonal; kiai-santri; pesantren; Komunikasi; interpersonal; kiai-santri; pesantren

Full Text:

PDF

References


Bourdieu, Pierre and J.C. Passeron. 1977. Reproduction in Education, Society and Culture. London: Sage.

Bourdieu, Pierre. 2004. Distinction: A Social Critique of the Judgement of Taste. New York & London: Routledge.

__________. 1990. In Other Words. Cambridge: Polity Press, 1990.

__________. 1991. Language and Symbolic Power, transl. Gyno Raymond and Mathew Adamson. Cambridge, Massacusset: Harvars University Press.

__________. 1977. Outline of a Theory of Practice. Cambridge: Cambridge University Press.

__________. 1990b. The Logic of Practice, translated by Richard Nice. Stanford, Californa: Stanford University Press.

Bungin, M. Burhan. 2007. Sosiologi Komunikasi: Teori, Paradigma dan Diskursus Teknologi Komunikasi di Masyarakat. Jakarta: Kencana.

Field, John. 2010. Modal Sosial, terj. Nurhadi. Yogyakarta: Kreasi Wacana.

Ghazali, Imam. t.t. Ihyâ’ ‘Ulûm ad-Dîn, Jilid I. Semarang: Thoha Putera.

Giddens, Anthony, Central Problems in Social Theory. London: Macmillan.

__________. New Rules of Sociological Methods. Cambridge: Polity Press, 2nd Edition.

__________. 2010. Teori Strukturasi: Dasar-dasar Pembentukan Struktur Sosial, terj. Maufur dan Daryatno. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

__________. 1984. The Constitution of Society. Cambridge: Polity Press.

Haryatmoko, “Sekolah, Alat Reproduksi Kesenjangan Sosial: Analisis Kritis Pierre Bourdieu” dalam Basis No. 07-08, Tahun ke-7, Juli-Agustus 2008.

Jenkins, Richard. 2004. Membaca Pikiran Bourdieu, terj. Nurhadi, (Yogyakarta: Kreasi Wacana.

Jones, Pip. 2009. Pengantar Teori-Teori Sosial: dari Fungsionalisme hingga Post-Modernisme. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Mitchel, G. Duncan (ed.). 1979. A New Dictionary of Sociology. London and Henley: Routledge and Kegan Paul.

Priyono, B. Herry. 2002. Anthony Giddens: Suatu Pengantar. Jakarta: KPG.

Putra, Heddy Shri Ahimsa. 1998. Minawang: Hubungan Patron-Klien di Sulawesi Selatan. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Ritzer, George & Douglas J. Goodman. 2005. Teori Sosiologi Modern, terj. Alimandan. Jakarta: Kencana, Cet. III.

Turner, Jonathan H. 1997. The Structure of Sociological Theory. Belmon, CA: Wadsworth.

Zarnuji Az-. t.t. Ta’lîm al-Muta’allim. Surabaya: Nur Asiya.




DOI: http://dx.doi.org/10.24090/ibda.v15i2.2017.pp%25p

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2017 Suparjo Suparjo

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.

Creative Commons License
IBDA by http://ejournal.iainpurwokerto.ac.id/index.php/ibda is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.

View My Stats Flag Counter

Jurnal IBDA' Terindeks di: