Abstract

Tulisan ini ditujukan untuk memahami diskursus arsitektur Islam- Jawa dalam upaya mewujudkan ruang hidup material manusia yang berbentuk masjid yang ramah lingkungan dan budaya. Apa yang dilakukan atau dibahas dalam diskursus, seperti yang terjadi pada arsitektur Islam- Jawa yang diterapkan pada masjid yang ramah lingkungan dan budaya merupakan kehendak dan kekuasaan. Dalam hal ini, persoalan arsitektur bukan hanya berhenti pada persoalan geometris, penciptaan ruang, dan menghuninya, melainkan lebih pada dimensi “kekinian” yang disebut dengan “kemenjadian” (becoming); bukan hanya ada (being), namun juga mengada (beings) yang detail penjelasan dalam tulisan ini dibagi dalam tiga bagian, yaitu: 1) konsep dan wacana arsitektur Islam-Jawa; 2) pengembangan arsitektur Islam-Jawa dan perpaduannya dengan eco culture; dan 3) arsitektur masjid yang eco culture.