Abstract

Perayaan Rebo Wekasan merupakan ritual keagamaan dalam bentuk sholat, mandi, membaca sholawat dan kegiatan keruhanian yang lain. Ritual ini dilakukan pada hari Rabu terakhir bulan Safar. Perayaan Rebo Wekasan bertujuan untuk mensyukuri nikmat Allah serta untuk menolak berbagai musibah. Ritual tersebut dilaksanakan sejak kedatangan Tumenggung Jamaludin Malik untuk menyiarkan agama Islam atas perintah Sunan Giri. Perayaan Rebo Wekasan terbentuk dari proses konstruksi sosial melalui proses eksternalisasi, obyektifikasi dan internalisasi. Sheikh Jamaludin Malik datang ke Suci untuk menyebarkan agama Islam dengan berbagai kesulitan, setelah dapat meretas kesulitan kemudian masyarakat merayakannya dalam bentuk ritual, selanjutnya masyarakat menganggap bahwa ritual tersebut merupakan tradisi yang harus dipertahankan meskipun mereka bertindak di luar kesadarannya. Momen Rebo wekasan yang asalnya ritual keagamaan mulai berbegeser ke momen politik. Kepentingan banyak pihak, terutama pihak desa dan Pemerintah Daerah menjadikan momen Rebo Wekasan sebagai ajang sosialisasi, agitasi dan kegiatan politik yang sama sekali tidak memiliki hubungan dengan ritual keagamaan. Hal tersebut dapat terjadi karena banyaknya pengunjung dan jamaah yang ikut merayakan kegiatan tersebut dari berbagai penjuru Gresik maupun luar Gresik.