Abstract

Abstrak: Zakat fitrah yang dihukumi wajib menjadi salah satu penyebab rigiditas dalam pelaksanaannya sehingga pencapaian terhadap tujuan hakikidiperintahkannya zakat fitrah cenerung terkalahkan oleh persepsi keabsahan pelaksanaan zakat itu sendiri sesuai ketentuan formalnya. Dekonstruksiterhadap hukum wajib zakat fitrah merupakan salah satu upaya yang bisa dilakukan untuk memecah kekakuan tersebut. Penelitian terhadap golonganyang berpandangan tidak wajibnya zakat fitrah beserta argumentasinya ini menghasilkan kesimpulan besar bahwa secara teoritis pandangan tersebutdimungkinkan kemunculannya karena dalil syarak yang mendasarinya bernilai zanni, baik wurud ataupun dalalah-nya, didukung pula oleh teori al-jam’ wa altawfiq, istinbat bayani terhadap makna farada, dan teori nasakh. Di samping itu, dari perspektif maqasid al-syari’ah dengan berubahnya situasi sosial-ekonomiyang mengharuskan zakat fitrah, maka perubahan hukum tersebut, dari wajib menjadi sunnah, adalah sesuatu yang masuk akal. Hal ini didukung pula olehkajian kesejarahan (tarikh al-tasyri’) yang menyimpulkan bahwa lafaz farada pada hadis tentang zakat fitrah lebih logis dimaknai secara bahasa, yang berartimenentukan (qaddara), bukannya menurut pengertian syarak, yakni mewajibkan, karena konsep tentang ahkam al-khamsah belum dikenal pada saatitu.
Kata Kunci: zanni al-wurud wa al-dalalah, al-jam’ wa al-tawfiq, nasakh, farada, tarikhal-tasyri’