Kepemimpinan Non Muslim Dalam Tafsir Al-Misbah Karya M. Quraish Shihab

Munawir Muín

Abstract


Kepemimpinan non muslim menjadi isu problematik dalam konteks hubungan antar umat beragama di Indonesia, khususnya bagi umat Islam dalam menjalankan hubungan sosial-politik-keagamaan dengan umat non Islam. Letak problematik isu kepemimpinan non muslim ini adalah konstitusi negara membolehkan tetapi konstitusi agama (berdasarkan tekstualitas al-Qur’an) melarang. Bagaimanakah M. Quraish Shihab merespon sekaligus menjawab problematika umat pada kasus tersebut? Permasalahan inti inilah yang akan dicobacarikan jawabannya melalui penelitian ini. Dengan menggunakan metode deskriptif-inferensial dan pendekatan filosofis-historis (philosophical and historical approach) diperoleh simpulan bahwa M. Quraish Shihab dalam menafsirkan ayat-ayat (larangan) kepemimpinan non muslim (QS. al-Maidah: 51, QS. Ali ‘Imran: 28, dan QS. al-Mumtahanah: 1) adalah kontekstual, atau dengan kata lain, ayat-ayat tersebut dipahaminya bersifat sosiologis dan bukan bersifat teologis. Oleh karenanya ia membolehkan kepemimpinan non muslim asalkan non muslim tersebut bukan dari golongan yang memusuhi Islam, bahkan ia tidak membolehkan kepemimpinan seorang muslim jika seorang muslim tersebut justru menciderai Islam dan merugikan kepentingan umat Islam.

Non-Muslim leadership becomes a problematic issue in the context of inter-religious relations in Indonesia, especially for Muslims in conducting religious-social-political relations with non-Muslims. The problematic position of this non-Muslim leadership issue is the state constitution allows but the religious constitution (based on the textuality of the Qur'an) forbids. How does M. Quraish Shihab respond as well as answer the problematic of the people in the case? It is this core issue that will be tested by the answer through this research. Using the descriptive-inferential method and the philosophical-historical approach (philosophical and historical approach), the conclusion that M. Quraish Shihab in interpreting the verses (ban) of non-Muslim leadership (Surat al-Maidah: 51, QS Ali 'Imran: 28, and QS al-Mumtahanah: 1) is contextual, or in other words, the verses are understood to be sociological and not theological. Therefore he allows non-Muslim leadership as long as the non-Muslims are not of a hostile group of Islam, even he does not allow the leadership of a Muslim if a Muslim is actually injurious Islam and harms the interests of Muslims.

Kata Kunci: Kepemimpinan, Non Muslim (Yahudi-Nasrani), dan Tafsir Al-Misbah.


Full Text:

PDF

References


Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, Semarang: CV AL WAAH, 1993.

Ghafur, Saiful Amin, Profil Para Mufassir Al-Qur’an, Yogyakarta: Pustaka Insan Madani, 2008.

Masduki, Mahfudz, Tafsir Al-Misbah M. Quraish Shihab Kajian Atas Amsal al-Qur’an, Yogyakarta: Pustaka Pelajar 2012.

Shihab, Alwi Shihab, Islam Inklusif: Menuju Terbuka dalam Beragama, Bandung: Mizan,1999.

Shihab, M. Quraish, Mu’jizat al-Qur’an Ditinjau dari Aspek Kebahasaan, Isyarat Ilmiyyah dan Pemberitaan Ghaib, Jakarta: Mizan, 2007.

----------, Tafsir Al-Misbah, Vol. 2 Cet. 5, Jakarta: Lentera Hati, 2012.

----------, Tafsir Al-Misbah, Vol. 3 Cet. 5, Jakarta: Lentera Hati, 2012.

----------, Tafsir Al-Misbah, Vol. 13 Cet. 5, Jakarta: Lentera Hati, 2012.

Wijaya, Aksin, Menusantarkan Islam, Yogyakarta: Nadi Pustaka, 2011.

Wartini, Atik, “Corak Penafsiran Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah”, Jurnal Hunafa: Jurnal Studia Islamika, Vol. 11, No.1, Juni 2014.




DOI: http://dx.doi.org/10.24090/mza.v2i2.2017.pp%25p

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Creative Commons License
Maghza by http://ejournal.iainpurwokerto.ac.id/index.php/maghza/index is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License

Indexed by:

    
     
     


Flag Counter

View My Stats