Abstract

Tulisan ini mengkaji tentang penerjemahan al-Qur’an di Indonesia yang menjadi penanda adanya interaksi umat Islam di Indonesia dengan Kitab Sucinya yang tidak terbatas pada membaca dan mengkajinya dalam lafaz asli, yaitu bahasa Arab. Seperti halnya tafsir al-Qur’an yang penuh dengan dinamika, penerjemahan al-Qur’an pun menyentuh ranah polemik yang menyeret perhatian para penganutnya dari kalangan yang berbeda-beda. Polemik yang dimaksud dapat ditemukan di antara bangunan sejarah penerjemahan yang panjang. Dalam kajian ini, penulis memilih dua polemik penerjemahan yang pernah muncul, yaitu “Al-Qur’an Bacaan Mulia” dan “Al-Qur’an Berwajah Puisi” karya HB Jassin dan “Tarjamah Tafsiriyah Al-Qur’an” Muhammad Thalib. Keduanya memiliki wajah yang sangat berbeda, yang pertama, dengan berpegang pada paradigma etika dan estetika secara bebas mengutamakan keindahan kalimat dan kedalaman makna yang syarat akan nuansa sastra. Sedangkan yang kedua, melalui paradigma teologis mendasarkan terjemahnya atas tafsir-tafsir Al-Qur’an sehingga menghasilkan terjemah yang sangat hati-hati, terbatas akan makna dan kandungannya.