Abstract

Selain lewat drama, kritik Rendra terhadap pemerintah juga hadir dalam puisi-puisinya di sepanjang tahun 1970-an. Bahasa dalam puisi tersebut kemudian dikumpulkan dalam buku puisi Potret Pembangunan dalam Puisi tertuju langsung dan jelas-jelas menampakkan seruan emosi si “pemberontak”. Sajak itu mengkritik efek dari industrialisasi, pendidikan, moral, dan lainnya terhadap keseimbangan antara kemanusiaan dan alam, juga menyerang perilaku materialistis –tanpa memikirkan kesejahteraan rakyat. Kajian ini difokuskan untuk mengungkap sisi terdalam dari puisi dalam buku Potret Pembangunan dalam Puisi. Atau dalam bahasa lain, mengacu pada wacana yang ditampilkan Rendra. Dalam hal ini penulis memfokuskan kajian pada wacana pendidikan, untuk memandangnya sebagai teks yang hidup, bukan karya yang mati, yang tidak bersentuhan dengan kondisi-kondisi sosial dan budaya masyarakat.