Abstract

Abstrak: Tulisan ini mengkaji tentang teologi, dalam konteks ini adalah teologi Islam. Teologi Islam dimaknai sebagai sebuah produk pemikiran seseorang dalam menfasirkan ajaran al Qur’an. Karena merupakan produk pemikiran, maka di dalam teologi memungkinkan terjadinya perbedaan. Dari beragam penafsiran yang ada, dalam konteks gender, sebuah teologi dapat bersifat bias ataupun adil gender. Kemunculan teologi sebagai sebuah produk pemikiran tidak bisa dilepaskan dari kekuasaan yang ada dalam diri manusia, yang menyebar, dan selalu berdialektika dengan bentuk kekuasaan lainnya. Kekuasaan tidak selalu bersifat negatif ataupun menekan,  tetapi kekuasaan bisa memunculkan satu pengetahuan yang dapat dikukuhkan melalui wacana.
Tulisan ini mengkaji tentang teologi, dalam konteks ini adalah teologi Islam. Teologi Islam dimaknai sebagai sebuah produk pemikiran seseorang dalam menfasirkan ajaran al Qur’an. Karena merupakan produk pemikiran, maka di dalam teologi memungkinkan terjadinya perbedaan. Dari beragam penafsiran yang ada, dalam konteks gender, sebuah teologi dapat bersifat bias ataupun adil gender. Kemunculan teologi sebagai sebuah produk pemikiran tidak bisa dilepaskan dari kekuasaan yang ada dalam diri manusia, yang menyebar, dan selalu berdialektika dengan bentuk kekuasaan lainnya. Kekuasaan tidak selalu bersifat negatif ataupun menekan,  tetapi kekuasaan bisa memunculkan satu pengetahuan yang dapat dikukuhkan melalui wacana.
This paper examines the theology; it is in the context is Islamic theology. Islamic theology is defined as a product of one's thought in interpreting the teachings of the Qur'an. Because it is a product of thought, then it allows that the different views may occur in theology. Of different existing interpretations, in the context of gender, a theology can be gender-biased or gender-equity. The emergence of theology as a product of thought cannot be separated from the existing and spreading of human power and it always dialectic with other forms of power. Power is not necessarily negative or pressing, but power can bring knowledge that can be confirmed through discourse.