Abstract

Abstrak: Keterlibatan Nahdlatul Ulama (NU) dalam sejarah Indonesia telah memberikan peran yang signifikan bagi pembentukan negara Indonesia dan demokrasi DI Indonesia. Kontribusinya dimanifestasikan dalam berbagai bidang baik politik, sosial, budaya, agama dan ekonomi. Meski belum maksimal, namun ada upaya-upaya secara gradual untuk meningkatkan kontribusi bagi masyarakat Indonesia sebagai masyarakat sipil. Salah satu upayanya adalah meningkatkan keberdayaan perempuan yang telah mengalami subordinasi dan diskriminasi tidak hanya dalam ruang privat tapi terutama dalam ruang publik. Melalui beberapa fatwanya, NU berkepentingan untuk meningkatkan martabat perempuan dengan mengafirmasi kesetaraan gender di antara laki-laki dan perempuan dan memberikan ruang yang lebih luas bagi perempuan untuk merealisasikan dirinya. Dengan adanya hak dan kebebasan yang lebih besar, perempuan memiliki kekuatan moral untuk terlibat secara aktif dalam ruang publik dan berkiprah secara diskursif dan praktis dalam arena politik untuk memberikan aspirasi politiknya. Dengan demikian, perempuan mampu berperan sebagai agen-agen yang otonom dan kritis terhadap kebijakan-kebijakan negara.
 
Abstract: Involvement of Nahdlatul Ulama ( NU ) in Indonesia's history has given a significant role for the formation of the Indonesian state and democracy in Indonesia. Its contribution is manifested in various fields of politics, social, cultural, religious and economic. Although not at the maximum but there is a gradual efforts to improve contribution to the Indonesian people as civil society. One of the efforts is to increase the empowerment of women who have been subordinated and discriminated not only in the private but in public spaces as well. Through several resolutions, NU's interest is to increase the dignity of women by affirming gender equality between men and women and provide more space for women to realize themselves. With the greater rights and freedom, women have the moral strength to be actively involved in the public sphere and acting as a discursive and practical in the political arena to provide political aspirations. Thus, women are able to act as autonomous agents and critical of state policies.
 
Kata Kunci: Ijtihad, Gender, NU, Masyarakat Sipil.