Abstract

Abstrak: Gerakan untuk memperjuangkan kesetaraan gender telah mendapatkan respon positif dari beberapa kalangan, bahkan sudah mendapatkan legitimasi legal sebagaimana tertuang dalam CEDAW (The Convention on the Elimination of All Forms of Discrimination against Women) yang diratifikasi oleh 183 negara pada tahun 2006. Bagi kalangan reformis religious, kondisi ini justru menjadi tantangan tersendiri terkait dengan bagaimana membangun argumentasi kesetaraan dan keadilan gender tidak hanya secara politis tapi juga secara religious. Dalam hal ini, ada dua pendekatan yang dilakukan, yakni: reinterpretasi al-Qur’an dan rekonstruksi sejarah. Meskipun kedua pendekatan tersebut saling terkait, namun tulisan ini lebih terfokus pada pendekatan kedua, yakni tentang bagaimana posisi dan peran perempuan dalam kepemimpinan politik dan militer. Secara historis, peran politis dan militer perempuan terepresentasikan dalam beberapa tokoh dan pejuang perempuan, seperti Aisyah, Nusaiba bint Ka’b al-Ansariya, Azdah bint al-Harith, dan lain-lain. Beberapa perempuan lain juga terkenal aktif dalam perjuangan pembebasan bangsa seperti Cut Nyak Dien, Chawa Barajewa dari Chechya dan beberapa perempuan Chechnya lain yang terlibat dalam perlawanan fisik terhadap pemerintahan Uni Soviet. Dalam wilayah kepemimpinan politis, beberapa negara Muslim telah memberikan kesempatan lebih luas bagi perempuan untuk berpartisipasi aktif dalam berbagai ruang publik. Bahkan kepemimpinan religious pun tidak lagi menjadi monopoli laki-laki dengan adanya mufti-mufti perempuan.     
 
The movement to fight for gender equality has got a positive response from some parties, even it has also got legal legitimacy as enshrined in CEDAW (The Convention on the Elimination of All Forms of Discrimination against Women), which was ratified by 183 countries in 2006. For religious reformist, this condition is actually a challenge in relation with the way to build arguments gender equality is not only on political side but also in religious one. In this case, there are two approaches performed, namely: a reinterpretation of the Koran and historical reconstruction. Although the two approaches are interrelated, but this article focuses more on the second approach, which is about how the position and role of women in the political and military leadership. Historically, the role of women in politics and military are represented in several prominent and female fighters, like Aisha, Nusaiba bint Ka'b al-Ansariya, Azdah bint al-Harith, and others. Some other well-known women active in the struggle for national liberation as Cut Nyak Dien, Chawa Barajewa of Chechya and several other Chechen women who engage in physical resistance against Soviet rule. In the area of political leadership, some Muslim countries have provided greater opportunity for women to actively participate in various public spaces. Even the religious leadership was no longer the monopoly of men with the women who can make decisions.
Kata Kunci: Perempuan, Kepemimpinan Politik, Militer.