Abstract

Abstrak: Islam sering dipersepsi sebagai agama yang kurang memberikan  perhatian terhadap hak-hak reproduksi perempuan dan juga hanya memposisikan tugas-tugas reproduksi kaum perempuan sebagai kewajiban dan tidak menyinggung hak-hak yang melekat pada tugas-tugas reproduksi itu. Perempuan sejalan dengan fungsi reproduktif yang dimilikinya, mempunyai tugas mengandung anak (al-h}amalah), melahirkan (al-wila>dah), menyusui (ar-rad}a>’ah), mengasuhnya (tarbiyah al-at}fa>l) dan beberapa hal lain yang berkaitan  dengan tugas ini. Pengabaian terhadap hak-hak yang terkait dengan fungsi-fungsi reproduktif tersebut tidak hanya bertolak dari penafsiran-penafsiran konvensional yang berada dalam koridor ortodoksi, sebagian kaum muslimin masih memandang bahwa memilih pasangan, menikmati hubungan seks, memiliki keturunan, menentukan kehamilan, cuti reproduksi dan menceraikan pasangan tidak sepenuhnya mutlak melekat pada diri perempuan, sebaliknya kendali justru lebih banyak berada ditangan laki-laki. Persoalan-persoalan serupa juga dapat dirasakan dalam forum pengajian majlis-majlis taklim di Kabupaten Banyumas, khususnya di Majlis Taklim Salma Alfareeha di Desa Cikembulan Kecamatan Pekuncen, yang anggota atau jamaahnya sebagian besar adalah kaum perempuan. Dalam penelitian ini terungkap bahwa secara umum jamaah Majlis Taklim Salma al-Fareeha beranggapan bahwa hak menentukan kehamilan dan memiliki keturunan adalah hak suami, istri harus mengikuti. Hal ini mereka nyatakan dengan alasan, karena suamilah yang bertanggunggug jawab memberi nafkah keluarga, meski menurut mereka sebaiknya diputuskan bersama-sama. Ada suatu pengakuan dari mereka, bahkan jenis kontrasepsi apa yang akan digunakan oleh sang istri ditentukan oleh suaminya. Ini menunjukkan bahwa idealita dan realita hak dan kesehatan reproduksi pada majlis taklim ini dipengaruhi oleh tingkat pemahaman keagamaan mereka (dan pilihan-pilihannya), pendidikan, pengalaman dan usia. Semakin muda mereka rata-rata lebih menyadari akan pentingnya hak dan kesehatan reproduksi perempuan bagi mereka.
 
Abstract: Islam is often perceived as a religion that gives little attention to women's reproductive rights. Issues such as choosing a husband, enjoying sex with her husband, have children, determine pregnancy, lactation, maternity leave, and divorcing couples are under the control of men. Similar problems also occurin the recitation of the Majlis Taklim Forum, Salma Al-Fareeha, Cikembulan Village, District of Pekuncen, which the member of his congregation are mostly women. This is a qualitative study that much depends on the ability of observation, interviews, and interpretation. Facts found are pilgrims Majlis Taklim Salma Al-Fareeha assume the right to determine pregnancy and have children is the husband’s rights, the wife should obey. They claim this for a reason, the husband is responsible to provide for the family. In fact, there is a recognition that the type of contraception used by the wife will be determined by her husband.
 
Kata Kunci: Reproduksi Perempuan, Idealita, Realita,