Abstract

Abstrak: Hans Georg Gadamer adalah salah seorang tokoh hermeneutika mazhab transendentalis. Ia berpendapat bahwa sebuah teks adalah otonom. Karenanya, untuk bisa memahami teks yang otonom tersebut harus ada dialog antara pra-pemahaman (pre-understanding) penafsir dengan realitas yang ter-cover dalam teks tersebut. Keduaanya benar-benar lebur (fusion of horizons) untuk kemudian melahirkan sebuah pemahaman baru. Teori ini penulis gunakan untuk mencari pemahaman baru pada lafal Allahu Akbar, sebuah pemahaman yang merupakan proses dialektika antara pra pemahaman (pre-understanding) penulis dengan realitas yang ter-cover dalam lafal tersebut.
 
Abstract: Hans Georg Gadamer is a leading transcendentalist hermeneutic. He argues that a text is autonomous. Therefore, to understand the autonomous text there should be a dialogue between the interpreters’pre-understanding with the reality that is covered in the text. Both are really melting (fusion of horizons) and then make a new understanding. This theory is used to search for a new understanding on the pronunciation Allahu Akbar, an understanding of the dialectical process between the authors’ pre-understanding with the reality that is covered in the pronunciation.
Kata Kunci: Takbir, Kesetaraan Gender, dan Hermeneutika