Abstract

Abstrak: Kemiskinan sangat erat kaitannya dengan gagalnya kebijakan tata kelola kekayaan sumber daya alam. Konsepsi membangun kesejahteraan itu sendiri berdiri di atas dasar pengukuran normatif yang pada temuan titik lemahnya pastilah akan ditemukan fenomena subordinasi, marginalisasi, partriarki dan anggapan bahwa persoalan ekonomi adalah urusan manusia yang mekanismenya diserahkan sepenuhnya kepada manusia (Godless). Perempuan sebagai kunci kesinambungan natalis suatu peradaban manusia merupakan entitas yang kurang diperhitungkan di dalam strategi pembangunan kejayaan ekonomi. Bahkan, nyaris sekali pada konsepsi pelaku dan sasaran pembangunan ekonomi menurut ajaran Islam yang berbasis altruistik (pendayagunaan zakat). Diskursus laten ini tentu sudah saatnya mengalami deskontruksi asasi yang pola aplikasinya integral dan dikembalikan pada akar masalah itu sendiri, yaitu perempuan sebagai clue suatu kejayaan suatu peradaban.
 
Abtract: Povertyis closely related with the failure of natural resource wealth governance policy. The concept of building prosperity itself stands on the basis of normative measurements on the findings that on the weak point it must be found to the phenomenon of subordination, marginalization, and the patriarchal assumption that the economic problems of human affairs that the mechanism is left entirely to humans (Godless). Women askey to the sustainability of human civilization generation are underestimated in the heyday of the economic development strategy. In fact, they are nearly left at all the conceptions of perpetrators and targets of economic development in Islam based on altruistic (utilization of zakat). This latent discourse certainly at time of basic deconstruction that the pattern of application is  integral and returned to the  problem it self, i.e. women as atriumph of civilization clue.
 
Kata Kunci: Perempuan, Zakat, Kesejahteraan.