Abstract

Abstrak: Persinggungan Arab Islam dengan kolonialisme dan modernitas melahirkan dinamika intelektual Arab Islam yang menandai satu fase kebangkitan Islam yang berpretensi untuk melakukan reinterpretasi tradisi Islam. Qasim Amin sebagai salah satu tokoh kebangkitan Islam juga berupaya untuk menafsirkan kembali ajaran dan tradisi Islam, terutama yang terkait dengan perempuan, dengan mengakomodir pemikiran-pemikiran dan budaya modern. Berbasis pada kritiknya terhadap pemakaian niqab dan burqa yang dianggap sebagai praktik hijab yang berlebihan dan justru mensubordinasi perempuan, Amin berupaya untuk memaknai kembali tradisi hijab tersebut dengan mengkaji historisitas hijab, menggali kembali teks-teks al-Qur’an dan hadis yang berbicara tentang perempuan dan hijab, penafsiran para ulama terhadap kedua teks tersebut, nilai-nilai dan prinsip-prinsip dasar dari syari’at Islam yang melandasi legislasi Islam, serta pemikiran feminisme liberal. Dalam konteks hijab, Amin menawarkan model hijab syar’i (moderat) yang tidak menutup seluruh tubuh perempuan dan menyisakan bagian muka dan kedua telapak tangan dalam kondisi terbuka. Secara teologis, model ini justru sesuai dengan teks-teks al-Qur’an dan hadis yang membolehkan perempuan memperlihatkan kedua bagian itu, karena dalam sejarah manusia keduanya sangat penting untuk melakukan aktivitas sehari-hari baik dalam ruang privat maupun publik. Sementara secara sosial, hijab syar’i lebih sesuai dengan syari’at Islam terutama terkait dengan prinsip kemudahan, karena lebih memungkinkan perempuan untuk bisa terlibat baik dalam urusan domestik maupun publik secara lebih mudah dan leluasa. Kemudahan dalam partisipasi sosial ini akan berdampak secara signifikan bagi peningkatan kualitas intelektual dan kesejahteraan sosial perempuan. Secara makro, partisipasi perempuan yang lebih luas dalam ranah publik akan berkontribusi penting bagi pencapaian progresi bangsa, sehingga bangsa-bangsa Arab mampu mencapai kemajuan seperti yang telah dicapai oleh bangsa-bangsa Barat.
 
Abstract: Intersection between Islamic Arab with colonialism and modernity make Islamic Arab intellectual dynamics that mark the Islamic revival phase that pretend to perform a reinterpretation of Islamic tradition. Qasim Amin as one of the leaders of Islamic resurgence has also sought to reinterpret the teachings and traditions of Islam, especially those related to women, to accommodate the ideas and modern culture. Based on his criticism of the use of the niqab and burqathat is regarded as excessive and practice of hijab, actually it is a practice of subordinating women. Amin attempted to re-interpret the hijab tradition by examining the hijab historicity, dig up the texts of the Qur'an and hadiths that talk about women and hijab, the interpretation of the scholars of the two texts, the values ​​and principles of Islamic Shariah underlying Islamic legislation, as well as the idea of ​​liberal feminism. In the context of hijab, Amin offers hijab syar'i models (moderate) that do not cover the entire female body and leaves the face and both palm of the hands in an open condition. Theologically, this model precisely in accordance with the texts of the Qur'an and the Hadith which allow women shows both that part, because in human history are both very important to perform daily activities in both the private and public spaces. While socially, hijab syar'i more in line with Islamic Shari'ah principles, especially related to convenience, since it allows women to be involved in both domestic and public affairs more easily and freely. The ease in social participation will significantly impact to the improvement of the quality of the intellectual and social well-being of women. At the macro level, the wider participation of women in the public sphere will contribute significantly to the achievement of the progression of the nation, so that the Arabs are able to achieve such progress that has been achieved by Western nations.
 
Kata Kunci: Penafsiran, Seklusi Perempuan, Hijab Syar’i.