Abstract

Abstrak: Dalam sejarah transmisi hadis, para periwayat hadis cenderung didominasi oleh periwayat laki-laki. Sekalipun ada beberapa periwayat perempuan, tetapi jumlah tersebut tidak signifikan jika dibanding dengan jumlah periwayat laki-laki. Apakah perempuan dianggap tidak memiliki kemampuan (terpercaya) untuk melakukan transmisi hadis, ataukah ada hubungan antara perempuan dengan kriteria keadilan dan kedhabitan periwayat? Inilah pertanyaan-pertanyaan yang akan dijawab oleh artikel ini. Melalui penelusuran terhadap para periwayat hadis perempuan yang ada dalam Kitab Sahih al-Bukhari -sebuah kitab hadis yang memiliki kedudukan tertinggi dibanding kitab-kitab hadis lainnya- ditemukan jawaban bahwa periwayat perempuan memiliki kemampuan dan kedudukan yang sama dengan periwayat laki-laki. Dalam Sahih al-Bukhari, tidak ada kriteria kelelakian (z|uku>rah) untuk menentukan sahih/tidaknya seseorang melakukan transmisi hadis. Kriteria yang dirumuskan adalah liqa>’ (pertemuan antara periwayat dengan yang diriwayati) dan mu’a>s}a>rah (sezaman antara periwayat dengan yang diriwayati). Dengan demikian, sedikitnya jumlah perempuan sebagai periwayat hadis, bukan karena jenis kelaminnya, tetapi karena setting sosial budaya saat itu yang menyebabkan keterbatasan mereka untuk berkiprah secara massif dalam aktivitas transmisi hadis.
 
Abstract: In the history of the transmission of hadits, the narrators of hadits tend to be dominated by men. Although there are several womennarrators, but the number was not significant when compared with the number of male narrators. Whether women are considered not to have the ability (reliable) for the transmission of hadits, or is there a relationship between women with criteria of justice and the weak narrators? These are the questions that will be answered by this article. Through the search for the woman haditsnarratorsin the Book of Sahih al-Bukhari, a book that has top notch compared to the other hadits Books narrators, it is found answers that women have the equal ability and level with the male narrators. In Sahih al-Bukhari, no criteria for maleness (z|uku>rah) to determine the valid/absence of a person to transmit hadits. The criteria are formulated as Liqa>' (a meeting between the narrator/transmitters with the listener) and mu'a>s}a>rah (contemporaries between the transmitters with the listener). Thus, the small number of women as narrators/transmitters of hadits isnot because of the gender, but because of the socio-cultural setting that causes their limitations to take part massively in the hadits transmission activity.
 
Kata Kunci: Gender, Periwayat Perempuan, dan Transmisi Hadis.