Abstract

Abstrak: Diskursus perempuan dikaitkan dengan wacana keagamaan menarik untuk dikaji mengingat adanya asumsi bahwa pemahaman agama -dalam hal ini teks-teks hadis- dianggap telah menjadi pemicu berbagai ketidakadilan terhadap perempuan. Oleh karenanya mengkaji bagaimana Nabi memosisikan perempuan dalam hadis-hadis adalah sangat penting, mengingat hadis sebagai sumber rujukan kedua dalam memahami ajaran Islam. Di antara tuntunan Nabi yang membutuhkan keseriusan guna menemukan esensi pemaknaannya adalah hadis tentang berkabungnya isteri yang ditinggal mati oleh suaminya. Dengan pendekatan  historis, sosiologis, dan psikologis, artikel ini menyajikan bahasan tentang cara Nabi memosisikan perempuan lewat rekaman hadis tentang berkabungnya seorang isteri. Dalam hal ini, ada dua hal yang harus dijalankan seorang muslimah ketika ditinggal mati suaminya yaitu ber-iddah dan ber-ihdad yang  batasannya adalah empat bulan sepuluh hari bagi yang tidak hamil dan setelah melahirkan bagi yang mengandung. Ada kebebasan menjalankan aktivitas bagi perempuan yang ditinggal mati suaminya meskipun mendapatkan wasiat dari suami untuk menjalankan masa iddah di rumah suami dengan selalu mempertimbangkan nilai-nilai yang dianut masyarakat dimana ia berada.
 
Abstract: It is always interesting to discuss about the discourse of women if it is associated with religious discourse considering that the understanding of religion -in this case the texts of hadist- is considered to have triggered the injustices against women. Therefore examining how the Prophet places women in the traditions is very important, considering the tradition as a source of reference both in understanding the teachings of Islam. Among the Prophet’s guidance of which required serious thought in order to find the essence of the meaning is the hadits about of the mourning wives after her husband died. With the historical, sociological, and psychological approach, this article presents a discussion on how Prophet places women through hadith about a mourning wife. In this case, there are two things that must be executed when a Muslim woman left by her dead husband, those are iddah and ihdad that the limit is four months and ten days for those who are not pregnant and after giving birth for the pregnant. There is freedom to perform activities for women who is left by her dead husband despite getting a will of her husband to live at husband’s home and always consider the values ​​adopted by the community in which she lives. Kata Kunci: Hadis, Kritik Hadis, ‘Iddah, dan Ihdad.