Abstract

Abstrak: Pernikahan, pada satu sisi sangat diharapkan oleh setiap pasangan, namun pada sisi lain juga tidak diharapkan oleh keduanya atau salah satunya, karena alasan usia yang belum matang. Pada posisi seperti ini, keinginan perempuan untuk menginginkan pernikahan di usia matang, tidak cukup kuat karena beberapa faktor eksternal, khususnya keluarga.  Hal ini muncul akibat posisi perempuan selalu saja dipahami sebagai subordinat, sehingga apapun masalahnya, keputusan dan keinginannya tidak dapat diputuskan sendiri.. Fenomena seperti ini sudah lama terjadi di masyarakat muslim, khususnya di Indonesia, di mana banyak keluarga muslim di pedesaan menginginkan anak perempuannya segera menikah, walaupun usianya terbilang masih sangat muda. Pada kenyataan ini, tentunya perlu adanya rekonstruksi hukum terkait hak usia nikah bagi perempuan, khususnya ditinjau melalui pendekatan gender.
 
Abstract: Marriage, on one hand is expected by every partner, but on the other hand it is also not expected by both or one of them, for reasons of immature age. In this position, the desire for women who wants a wedding at a mature age is not strong enough due to some external factors, especially the family. This arises as a result of the position of women is always understood as a subordinate, so whatever the problem, the decision and desire cannot be decided by her. This phenomenon has long occurred in the Muslim community, especially in Indonesia, where many Muslim families in the countryside wants her daughter soon married, although she was fairly still very young. On this fact, of course, it needs a reconstruction related to legal age of marriage for women's rights, particularly in terms of gender approach.
 
Kata Kunci: Kedewasaan, Usia Nikah, dan Gender.