Abstract

Abstract: Kecantikan perempuan bukan sesuatu yang universal dan tidak berubah. Hal ini dibuktikan dengan adanya pergeseran konsepsi kecantikan perempuan, yang dulu diidentikkan dengan tubuh yang gemuk. Sekarang lebih diidentikkan dengan tubuh yang langsing dan berkulit putih. Oergeseran konstruksi kecantikan ini tidak terlepas dari peran media yang merepresentasikan kecantikan perempuan dengan image tertentu, misalnya melalui iklan-iklan produk pemutih yang menggambarkan perempuan cantic adalah yang memiliki kulit putih. Dalam artikel ini, perempuan justru menggunakan agensi mereka untuk menegosiasi konsepsi kecantikan yang diidentikkan dengan kulit putih yang lebih menekankan penampilan fisik, dan merekontruksi konsep kecantikan yang berbeda. Sebagai perempuan mmuslim, mereka mengakomodir nilai-nilai agama yang lebih menekankan moralitas sebagai bagian dari inner beauty utntuk mengkritik konsepsi kecantikan yang direpresentasikan media yang semata-mata menekankan aspek fisik. Meskipun, penampilan fisik juga dianggap pentiing, namun moral yang baik diangga[ lebih esensial. Dengan rekontruksi ini, perempuan telah mengorganisir identitas yang berbeda, bahkan berlawanan dalam narasi baru yang menjadi dasar bagi kontruksi habitus dan praktik kecantikan mereka di masa yang akan datang.
Kata-kata Kunci: Kecantikan, Media, Representasim Subjektifitas, Agensi